Namaku Muhammad Raffa Al-Faiz. Usiaku sebelas tahun. Namun, lebih dari setengah usiaku, aku lewatkan dengan perjuangan panjang melawan kanker darah.

Semua berawal dari tahun 2015 saat aku masih berusia lima tahun. Awalnya di sebuah rumah sakit, aku dikira sakit demam berdarah, tapi setelah dilakukan beberapa tes di RSCM, aku didiagnosa dengan penyakit ALL (Acute Lympoblastic Leukemia). Selain di RSCM, aku pernah dirawat di Rumah Sakit Kramat 128, dan kini di Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Dengan dukungan dan semangat dari Ibu dan Ayah, aku melewati semua pengobatan yang disarankan dokter. Dan hingga kini aku masih menjalani kemoterapi.

Namun, penyakit ini membuatku harus sementara mengabaikan cita-citaku menjadi pemain bola professional. Padahal, dulu, aku sangat suka main bola.

Penyakit ini juga membuatku malu bertemu teman-teman di sekolah maupun di lingkungan rumah, karena aku ketinggalan pelajaran. Aku seringkali tidak bisa masuk sekolah karena kondisi fisikku yang cukup lemah. Untung saja guru-guru dan wali kelasku memperbolehkan aku belajar dari rumah dengam bimbingan Ibu.

Aku juga bersyukur, karena ayahku – walaupun ayah sambung sekalipun – sangat perhatian dan mau mengajariku pelajaran agama. Karena, saat ini, pelajaran agama adalah yang paling aku sukai. Padahal Ayah juga harus bekerja sebagai buruh cetak demi membiayai pengobatanku yang tidak di-cover BPJS, iuran BPJS, juga biaya hidup kami sekeluarga.

Bukan hanya dukungan dari Ayah dan Ibu, tapi juga pendampingan kakak-kakak baik hati dari Yayasan Pita Kuning yang sangat baik dan perhatian. Padahal, sejak sakit, aku menjadi pendiam, bahkan jujur aku kerap merasa minder bila melihat anak-anak lain yang sehat dan bisa beraktivitas dengan bebas. Hingga aku menarik diri dari mereka. Tapi, kakak-kakak dari Pita Kuning membuatku merasa seperti punya teman lagi. Selain mengajak aku bermain, mereka juga selalu menyemangati aku untuk belajar.

Sekarang aku punya adik, usia satu tahun. Perhatian Ayah-Ibu dan biaya hidup kami tentu harus terbagi. Tapi aku paham. Aku juga sayang adik. Karenanya, aku ingin cepat sembuh agar Ibu bisa punya waktu lebih untuk memerhatikan adik dan Ayah tidak perlu bingung mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga.

Bukan hanya itu, aku juga ingin bersekolah seperti teman-teman lainnya. Bahkan, siapa tahu, aku bisa tetap meraih cita-citaku menjadi pemain bola professional.