Waktu itu, aku belum genap berusia sembilan tahun, tiba-tiba kakiku terasa nyeri, sampai-sampai aku nggak bisa tenang belajar. Padahal aku senang banget belajar, terutama pelajaran Bahasa Indonesia. Aku ingin jadi penulis jika besar nanti.

Nyeri di kakiku tidak hilang begitu saja, bahkan aku sampai demam segala. Aku dibawa ke klinik dekat rumah, tapi hanya dikasih pereda nyeri. Rasa sakitnya enggak hilang, tuh.  Ayah dan Ibu semakin khawatir. Akhirnya aku dibawa ke rumah sakit dan dirawat selama seminggu. Katannya, sih, aku sakit anemia. Tapi, kok, kepalaku juga ikut nyeri, bahkan aku sesak napas juga, ya?

Ayah dan Ibu memang orang tua yang perhatian, akhirnya aku dibawa ke rumah sakit lain. Eh, tiba-tiba ada benjolan di tangan kananku. Tapi penyakitku yang sebenarnya belum ketahuan juga. 

Nah, setelah aku dibawa ke RSCM dan menjalani berbagai pemeriksaan seperti BMP, CT Scan, Rontgen, USG, baru , deh, Dokter mendiagnosa bahwa aku menderita Lymphoma Malignant Non Hodgkin (LMNH), kanker yang berkembang di kelompok sistem limfatik atau getah bening.

Saat itu, usiaku sudah sembilan tahun. Sejak sakit, aku tidak bisa bersekolah. Sedih, sih, nggak ketemu teman-teman dan guru. Tapi Ayah atau Ibu selalu bergantian menjagaku. Bahkan Ayah yang biasanya jualan piscok alias pisang coklat, sampai nggak jualan, lho, demi menemani aku. Padahal, aku diam-diam aku tahu, kalau Ayah nggak jualan, keuangan keluarga kami lumayan sulit. Apalagi, tabungan Ayah dan Ibu juga harus terpakai untuk membeli obat atau untuk tindakan yang tidak di-cover BPJS.

Makanya, aku mau menjalani apapun supaya bisa sehat lagi. Dioperasi, ayo; dikemoterapi, ayo. Apa saja! Pokoknya, aku ingin meringankan beban dan kesedihan Ayah dan Ibu.

Dan, Alhamdulillah,  Januari 2020 silam, sel kanker di tubuhku enggak ditemukan lagi. Aku nggak harus menjalani pengobatan yang seram itu lagi. Aku hanya harus control medis rutin sekali dalam sebulan. Ayah, Ibu, aku, dan seluruh keluarga besar yang mendukung kami sangat bersyukur.

Oh ya, bukan hanya keluarga, tapi ada kakak-kakak baik hati dari Yayasan Pita Kuning yang mendampingi aku selama pengobatan. Mereka sudah seperti kakak aku sendiri. Dengan semangat dari mereka, meski setahun aku harus ketinggalan pelajaran demi berobat, aku nggak malu ataupun minder. Soalnya aku nggak merasa beda, tuh, dari teman-teman lainnya si sekolah.

Eh, ada, sih, bedanya. Sebulan sekali aku harus ketemu dengan oom dan tante dokter, juga para perawat yang baik hati. Hehe! Nggak apa-apa, deh, anggap aja jalan-jalan. ☺

Doakan, ya, semoga kankerku nggak muncul lagi. Enyah selamanya. Aku ingin meraih cita-cita menjadi penulis dan mungkin juga menjadi guru pelajaran Bahasa Indonesia, karena aku suka banget membaca. Dukung aku meraih masa depan yang gemilang, ya! Terima kasih.