
‘Deteksi Dini Kanker pada Anak dan Penanganannya‘ merupakan webinar yang menjadi bentuk kerjasama Pita Kuning dan Lions Club Jakarta Monas Movast pada Kamis, 10 Februari 2022. Webinar yang berlangsung selama satu setengah jam ini diberi sambutan hangat oleh pihak LCJM seperti Ibu Dewi Makes (Koordinator Childhood CA, LCJM Movast), Ibu Sirikit Kumaat (Ketua Komite Childhood Cancer Lions Club), Ibu Jessica Budiman (Gubernur Distrik Lions Club, 307-A1), dan Ibu Solida Ramly (President LCJM Movast). Adapun sambutan dari Pita Kuning disampaikan oleh Mas Raka Pramudito selaku ketua Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia.
Materi webinar disampaikan langsung oleh dr. Mururul Aisyi, Sp. A (K).
1. Apakah Kanker Anak Bisa Disembuhkan?
Tahukah kamu, persentase kanker anak memiliki jumlah yang lebih sedikit dari kanker orang dewasa. Terdapat setidaknya 5% anak dengan kanker. Namun, jumlah yang lebih sedikit bukan berarti bisa diabaikan. Dalam menyampaikan materi deteksi dini kanker anak, dr. Mururul Aisyi, Sp. A (K) mengibaratkan kanker anak seperti mengerjakan suatu ujian soal. Kita akan menyelesaikan soal yang lebih mudah ditangani terlebih dahulu. Sama seperti kanker pada anak, isu ini dapat menjadi hal yang lebih mudah ditangani dibanding kanker orang dewasa karena memiliki potensi kesembuhan hingga 100%.
2. Survival Rate: Low VS High Income Country
Beberapa negara maju telah menyadari pentingnya deteksi dini kanker pada anak. Bahkan, beberapa figur telah mengerahkan donasinya untuk anak dengan kanker seperti Band Metalica dan Donald Trump. Adapun beberapa negara yang telah membuat regulasi dan perencanaan biaya khusus untuk deteksi dini kanker pada anak yakni Eropa dan Amerika. Perlu diketahui, tren kanker pada anak juga kian meningkat sejak 1993 dan belum diketahui pasti penyebabnya. Hal ini merefleksikan, semua pihak harus berperan untuk menyelesaikan isu kanker anak mulai dari hulu ke hilir.
Tidak bisa dipungkiri, masih ada kesenjangan angka penyembuhan kanker anak (survival rate) antara high income dan low income country. High income country memiliki survival rate hingga 80%, sedangkan low income country hanya 20% saja. Ketimpangan ini timbul karena beberapa hal, seperti:
- Masih banyak anak yang yang tidak terdiagnosis
- Sudah didiagnosis, tapi tidak terdeteksi
- Sudah didiagnosis, sudah terdeteksi, tapi tidak ditindaklanjuti
- Supportive care yang masih perlu ditingkatkan
- Relapse (kambuh, mengulang protokol pengobatan dari awal lagi)
BACA JUGA: Yuk, berdonasi untuk > 40 Anak Pita Kuning di Indonesia!
3. Gejala Kanker = Terdapat 10-20 Sel Kanker pada Anak
dr. Mururul Aisyi, Sp. A(K) juga melanjutkan, istilah ‘deteksi dini’ tidak cocok untuk kanker anak. Mengapa?
Hal ini karena kanker anak sangat sulit untuk dideteksi, tetapi lebih mudah diupayakan kesembuhannya. Maka penyebutan yang tepat adalah ‘mengenali kanker anak secara dini’. Bahkan, jika anak sudah menunjukan beberapa gejala kanker, biasanya sudah ada 10 sampai 20 sel kanker yang ada di dalam tubuh anak. Jika telat mengenali kanker anak, maka tambah sulit pengobatan yang akan dilakukan. Selain kanker anak, kanker remaja juga perlu mendapat perhatian. Meski remaja terkesan memiliki tubuh yang segar bugar, justru kanker remaja lebih sulit diobati dibanding kanker anak.
Penyebab kanker belum diketahui secara pasti. Memang ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab kanker, contohnya yakni faktor genetik. Namun, hanya 10% kanker anak yang berasal dari genetik (keturunan).
4. Kanker VS Tumor
Deteksi dini kanker pada anak memang mirip dengan tumor. Namun, orang tua perlu memeriksakan tumor tersebut ke rumah sakit terdekat. Jika hasil pemeriksaan di laboratorium mengindikasikan tumor yang ganas (menyebar ke jaringan tubuh lain) maka dipastikan itu adalah kanker. Penanganan kanker selanjutnya bisa melalui beberapa cara yakni operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Sedangkan tumor biasa bersifat jinak (tidak menyebar ke jaringan tubuh lain).
5. Deteksi Dini Kanker pada Anak dari Jenis Kankernya
Kanker Cair
Darah tediri dari sel darah merah, trombosit, dan sel darah putih (leukosit). Jika sel darah putih (leukosit) ditekan oleh sel kanker, maka menimbulkan gejala kanker leukemia yaitu pucat, panas, dan perdarahan. Bahkan bisa menyebar ke jaringan lain yang mengakibatkan gusi membesar, perut membuncit, gelenjar getah bening dan testis membengkak. Pembesaran testis menyebabkan anak berjalan pincang.
Kanker Padat
Kanker padat dibedakan dengan usia dan tanda dininya. Berikut beberapa jenis kanker padat:
Kanker otak: > 5 tahun (ditandai dengan nyeri kepala, muntah, kejang, hingga harus terbangun dari tidur)
Retinoblastoma: < 5 tahun (ditandai dengan mata berbentuk seperti mata kucing, kemerahan, dan pembesaran bola mata)
Limfoma: rentang 7-8 tahun (ditandai dengan kelenjar getah bening berupa benjolan lebih dari 2 cm, tidak terasa nyeri, dan biasanya terdapat di satu sisi leher)
Osteosarkoma: rentang 10-15 tahun (ditandai dengan benjolan pada tulang, mengakibatkan rasa nyeri hingga terbangun saat malam hari).
Nefroblastoma: < 5 tahun (ditandai dengan pembesaran di perut,kencing berdarah, hingga tekanan darah tinggi)
Neuroblastoma: < 5 tahun (ditandai dengan nyeri tulang, diare, mata kering, dan lumpuh)
BACA JUGA: Berkenalan dengan Anak Pita Kuning (APK) di Indonesia
Question & Answer
Pertanyaan 1:
Jika testis membesar, bagaimana cara membedakan apakah gejala tersebut merupakan penyakit leukemia atau penyakit hernia?
Jawab:
Perlu dilakukan diagnosis banding terlebih dahulu, karena kedua penyakit tersebut memiliki gejala yang mirip. Jika benjolan pada saat waktu tertentu (contoh: anak menangis, buang air besar, atau angkat barang yang berat) dapat mengecil kembali, maka itu adalah gejala hernia. Namun, jika benjolan tersebut tidak kunjung mengecil, maka itu adalah kanker leukemia.
Pertanyaan 2:
Bagaimana upaya orang tua agar dapat memperbaiki sel-sel baik yang rusak setelah anak menjalani kemoterapi?
Jawab:
Orang tua perlu teliti mengenai penggunaan obat apa atau rejimen apa yang bisa digunakan. Hal ini untuk menghindari over treatment dan under treatment pada anak. Tapi tenang saja, sel-sel yang dimiliki anak lebih mudah untuk tumbuh kembali dibanding orang dewasa. Karena plastisitasnya tinggi. Kemudian, lakukan observasi setelah kemoterapi minimal 5 tahun. Hindari juga bahan (makanan) yang memiliki karsinogenik. Jangan lupa rutin berkonsultasi dengan dokter.
Pertanyaan 3:
Apakah benjolan pada kening atau lengan dapat disebut kanker? Jika benar kanker, apa faktornya?
Jawab:
Perlu dipastikan apakah benjolan atau tumor tersebut ganas atau tidaknya. Kalau ganas, sudah bisa dipastikan benjolan tersebut adalah kanker. Sedangkan benjolan yang banyak dan tegas itu adalah neurofibromatorsis (itu karena genetik) yang dapat dibedah. Adapun benjolan seperti lipom yang diakibatkan oleh deposit lemak pada tubuh tidak dapat menampung lemak lagi.
Pertanyaan 4:
Kenapa tren anak dengan kanker meningkat (sejak 1993)? apakah kita bisa tekan laju pertumbuhannya?
Jawab:
Memang, hingga saat ini kita belum bisa mendeteksi penyebab tren kanker yang terus meningkat. Betul, kita tetap bisa mengurangi faktor risikonya dengan cara memperkenalkan anak dengan sistem infeksi (misal: anak dilahirkan secara normal, bukan sesar), tidak merokok, dan melakukan diet seimbang.
Pertanyaan 5:
Apakah anak dengan kanker tidak boleh mengkonsumsi makanan yang mengandung gula? apakah artinya tidak boleh makan nasi?
JAWAB:
Anak dengan kanker boleh mengkonsumsi makanan yang mengandung gula (contohnya nasi) dengan porsi yang cukup untuk kebutuhan harian. Hal ini karena sel normal pada anak juga butuh protein untuk tumbuh. Selengkapnya juga bisa didengarkan melalui Podcast dr. Aisyi: Sejenak Kanker Anak.
Terimakasih dr. Aisyi dan LCJM Movast atas Kesempatannya!
Sebagai penutup webinar ‘Deteksi Dini Kanker pada Anak dan Penanganannya’ dari dr. Mururul Aisyi, Sp. A(K), beliau berpesan bahwa kanker anak merupakan tanggung jawab bersama dari hulu ke hilir. Selalu terbuka kesempatan bagi anak dengan kanker untuk sembuh, mengingat negara maju juga sudah membuktikan hal tersebut. Kita bisa bantu penuhi kebutuhannya atau ikut meningkatkan kesadaran masyarakat lewat ilmu yang sudah didapat dari webinar kali ini.
Penutupan webinar dilanjutkan oleh Steny Agustaf selaku pembina Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia. Steny Agustaf juga memberikan ucapan terima kasih kepada pihak LCJM Movast yang telah bekerjasama dalam acara ini. Ia juga menyampaikan bahwa selalu ada kesempatan baik yang datang untuk kita dan menolong sesama. Kita bisa jadi penyebab kurangnya penyebaran anak dengan kanker.
Nantikan info selanjutnya mengenai edukasi kanker hanya di linimasa di Pita Kuning!






