Luka sulit sembuh karena Hemofilia, apakah pernyataan tersebut benar adanya? Jika terjadi luka pada anak sampai mengalami pendarahan, bisa saja hal tersebut karena Hemofilia. Namun, orang tua tidak dapat mengambil kesimpulan dengan cepat tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui apa itu sebenarnya hemofilia, gejala hemofilia, dan penanganan yang bisa dilakukan.

Luka Sulit Sembuh Karena Hemofilia, Benar atau Salah?
Sebelum mengulik kebenaran apakah benar luka sulit sembuh karena hemofilia, mama atau papa perlu memahami apa itu hemofilia terlebih dahulu. Hemofilia adalah penyakit turunan yang ditandai dengan adanya pendarahan berat atau gangguan pembekuan darah. Pendarahan yang sulit disembuhkan ini karena kurangnya suatu protein yang ‘bertugas’ membekukan darah dengan baik. Anak yang mengalami hemofilia kerap memproses pendarahan lebih lama dibandingakan dengan orang normal. Jika terjadi luka yang lebih dalam, pendarahan yang lama dapat terjadi karena tubuh tidak dapat membentuk gumpalan darah yang kuat dan melekat di mana pembuluh darah telah rusak. Karena itu, pendarahan jadi masalah utama bagi anak yang mengalami hemofilia.
1. Hemofilia Berat (<1% dari jumlah normalnya). Dapat mengalami beberapa kali perdarahan dalam sebulan, kadang-kadang pendarahan terjadi begitu saja tanpa sebab yang jelas.
2. Hemofilia Sedang (1%-5% dari jumlah normalnya), perdarahan dapat terjadi akibat aktivitas tubuh yang terlalu berat, seperti olahraga yang berlebihan.
3. Hemofilia Ringan (5%-30% dari jumlah normalnya) mengalami masalah perdarahan hanya dalam situasi tertentu, seperti operasi, cabut gigi atau mengalami luka yang serius. Wanita Hemofilia ringan mungkin akan mengalami perdarahan lebih pada saat mengalami menstruasi.
Baca Juga: Gejala Leukemia Anak, 3 Hal yang Harus Diperhatikan!
Bagaimana Gejala Hemofilia?
Hemofilia kerap muncul karena trauma minor atau perdarahan spontan. Pada kasus hemofilia berat, juga diikuti dengan berbagai dampak pada banyak organ. Sendi bisa mengalami nyeri, bengkak, radang, hangat, dan rentang gerak serba terbatas karena adanya pendarahan. Adapun sendi yang paling sering merasa nyeri yakni di bagian lutut, siku, perelangan kaki, bahu, dan lain sebagainya. Dalam jangka waktu tertentu, pendarahan berulang pada persendian dan otot bisa menyebabkan kerusakan permanen seperti nyeri kronis. Sedangkan pendarahan di kepala, perut, leher, dan dada jarang terjadi. Namun jika hemofilia di daerah ini terjadi, dapat menganvam nyawa.
Hemofilia disebabkan oleh faktor gen atau keturunan sehingga tidak ada cara untuk mencegahnya. Namun, orang tau bisa melakukan tes ke layanan kesehatan terkait jika ingin mengecek riwayat hemofilia dalam keluarga.
Penanganan Anak yang Terkena Hemofilia
Jika setelah diperiksakan ke dokter ternyata disimpulkan bahwa naak terkena hemofilia, maka orang tua dapat mencegah terjadinya ‘kecelakaan’ yang berpotensi menyebabkan pendarahan/luka, seperti:
- Lampu penerangan yang baik
- Menghindari penggunaan perabot yang berisiko menyebabkan luka seperti keset yang licin
- Menjaga kebersihan gigi agar terhindar dari penyakit gigi yang menimbulkan pendarahan di area gusi
- Bisa tetap berolahraga, namun gerakan yang ringan dan prosedur yang aman
- Hindari menggunakan obat sembarangan tanpa saran dari dokter
Terapkan RICE Saat Pendarahan Terjadi
Jika terjadi pendarahan, maka orang tua dapat menerapkan RICE; RICE, Rest, mengistirahatkan sendi yang berdarah, Ice dikompres es dengan cara Compression yaitu ditekan, dan Elevation, meninggikan posisi bagian yang mengalami perdarahan sehingga berada di atas jantung.
SUMBER:
Rahmadona, D. (2022). Hemofilia. Jurnal Kedokteran, 11(3), 1125-1139.
Artikel berjudul ‘Hemofilia‘ oleh Tim Promkes RSST – RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten pada situs Kemenkes (2022)






