Pengabdi Seblak Wajib Baca, Kerupuk Merah dan Kanker Ternyata Berkaitan Erat!

Apakah kamu pecinta seblak? nasi goreng? dan bubur ayam? Ketiga makanan ini rasanya tak lengkap jika tiada kehadiran kerupuk merah dengan warna khas mencolok yang sukses menggugah selera. Namun siapa sangka, kerupuk merah dan kanker memiliki keterkaitan erat, karena kerupuk merah di sembarang tempat juga identik dengan pewarna tekstil yang memiliki kandungan karsinogenik (zat ‘pencetus’ kanker’) yang berbahaya.

“Itu kerupuk yang warna merah dan kinclong, itu sudah (menjadi) pencetus kanker..

.. karena itu pewarna tekstil. Pewarna tekstil untuk sirup, kerupuk, lipstik itu (mengandung) karsinogenik, karena itu (seharusnya digunakan) untuk tekstil. Masyarakat tidak tahu, sehingga tetap konsumsi.” -dr. Handrawan Nadesul, menurut kesaksiannya dalam cuplikan akun manfaatherbalid.

Kerupuk merah dan kanker

Tentang Sembarang Kerupuk Merah yang Bebas Berkeliaran

Bukan kasus baru, ternyata keterkaitan kerupuk merah dan kanker sudah mencuat sejak tahun 2015. Hal ini dilansir dalam situs Tempo, yang menyatakan bahwa Petugas Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pariwisata (Disperindagkoppar) Kota Madiun, Jawa Timur telah menemukan kerupuk merah yang dicurigai mengandung bahan pewarna sintetis. Pewarna ini lumrah digunakan untuk kertas, tekstil, atau tinta. Diduga kerupuk tersebut mengandung Rhodamin B. Jika at tersebut dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang, maka akan menyebabkan beberapa penyakit berbahaya seperti kerusakan hati dan kanker.

Pewarna Kerupuk Merah dan Kanker

Kerupuk merah kerap ditambahkan pewarna agar terlihat lebih menarik. Pewarna dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Pewarna alami berasal dari tanaman, hewan, dan mineral yang aman jika dikonsumsi.
  • Pewarna sintetis adalah pewarna yang berasal dari bahan kimia, biasa digunakan untuk cat, tekstil, dan printing.

Pewarna sintetis, seperti Rhodamin B, dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan saluran pencernaan, serta bersifat karsinogenik dan berpotensi merusak hati jika dikonsumsi dalam jumlah besar. Oleh karena itu, pemerintah telah mengeluarkan peraturan tentang penggunaan zat aditif dalam makanan untuk memastikan keamanan konsumen.

Meskipun pewarna alami dapat menjadi alternatif yang lebih aman, namun biaya dan proses produksinya yang lebih panjang dapat menjadi kendala bagi produsen makanan dalam skala produksi besar. Beberapa jenis tanaman seperti kunyit, buah bit, buah naga, stroberi, daun pandan, dan daun suji dapat digunakan sebagai pewarna makanan alami. Namun, produsen makanan masih mencari alternatif lain untuk mengganti pewarna buatan yang murah dan mudah diperoleh.

Dalam hal ini, peran konsumen sangat penting untuk memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi. Kamu sebagai konsumen perlu memperhatikan label pada kemasan makanan, termasuk kandungan zat pewarna yang digunakan. Jika terdapat keraguan tentang keamanan suatu produk, konsumen dapat memilih untuk tidak mengkonsumsinya atau mencari alternatif lain yang lebih aman.

SUMBER:

Artikel Berjudul “Waspada Kerupuk dengan Pewarna Sintetis yang Picu Kanker” disunting oleh Kodrat Setiawan pada situs Tempo (2015).

Hevira, L., Alwinda, D., & Hilaliyati, N. (2020). Analisis pewarna rhodamin B pada kerupuk merah di Payakumbuh. Chempublish Journal5(1), 27-35.

Atikel Terkait ...

Picture of Pita Kuning

Pita Kuning

Yayasan yang memberikan layanan psikososial bagi anak dengan kanker dari keluarga prasejahtera

Semua Post

Kabar Berita

Berlangganan Artikel

Jadi yang pertama untuk mendapat kabar terbaru Pita Kuning

Cerita Anak