Viral video seputar zat kimia sunscreen menyebabkan kanker. Hal ini menimbulkan perdebatan antar pengguna di media sosial baik di kalangan dokter atau pengamat kecantikan. Namun, apakah informasi tersebut benar adanya? cari tau kebenaran tentang zat kimia sunscreen menyebabkan kanker pada artikel berikut.
Physical VS Chemical Sunscreen
Sebelum mengulas kebenaran apakah zat kimia sunscreen menyebabkan kanker, kamu perlu mengetahui perbedaan jenis sunscreen yakni physical sunscreen dan chemical sunscreen. Dilansir dari artikel alodokter (tinjauan dr. Merry Dame Cristy Pane) menyebutkan bahwa:
- Physical Sunscreen
Sunscreen jenis ini mampu memblokade sinar UV untuk masuk ke dalam kulit. Kelebihan: memberikan perlindungan langsung tanpa menunggu beberapa waktu. Kekurangan: Tekstur lebih tebal dan meninggalkan efek putih di kulit (white cast) sehingga kurang cocok untuk digunakan oleh kulit kombinasi dan berjerawat.
- Chemical Sunscreen
Sunscreen jenis ini bekerja dengan menyerap sinar UV di bawah permukaan kulit dan mengubah jadi panas agar tidak masuk ke lapisan kulit lebih dalam lagi. Adapun beberapa zat kimia yang terkandung dalam tabir surya jenis ini yaitu oxybenzone, avobenzone, dan octinoxate. Kelebihan: Tekstur lebih ringan dan tidak ada efek white cast, lebih cocok untuk kulit kombinasi/berjerawat. Kekurangan: Menunggu 20-30 menit agar sunscreen bekerja dengan maksimal dan dapat menimbulkan iritasi bagi kulit sensitif.
Disebut-sebut bahwa oxybenzone, zat kimia sunscreen dapat menyebabkan kanker.

[Mitos/Fakta] Zat Kimia Sunscreen Menyebabkan Kanker
FDA (Food and Drug Administration – Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengatakan bahwa oxybenzone, kandungan dalam sunscreen, aman digunakan. Bahkan sejak tahun 1978, FDA telah menyetujui penggunaan oxybenzone pada tabir surya.
Terdapat penelitian yang menguji oxybenzone pada tikus kecil. Pada penelitian tersebut, tikus diberikan oxybenzone dosis ekstrim. Efek sampingnya, berat pada uterus tikus tersebut meningkat. Namun, hasil temuan ini tak menunjukan bukti yang sama dengan manusia. Pertama, karena dosis oxybenzone pada chemical sunscreen tidak sebanyak dan se-ekstrim pada penelitian tikus. Kedua, tidak ada perbedaan biologis signifikan ketika diuji coba pada manusia (dengan kadar oxybenzone 10%). Setelah mengukur sensivitas dan tingkat iritasi oxybenzone pada manusia, hanya 0,07% dari 19.750 pasien mengalami peradangan kulit akibat oxybenzone dari tabir surya.
Sampai saat ini, belum ada efek negatif yang signifikan dari penggunaan oxybenzone pada manusia.
BACA JUGA: Cat Rambut Menyebabkan Leukemia, Fakta/Mitos?

Sunscreen: Menurunkan Risiko Kanker Kulit
Dapat diketahui, belum ada penelitian yang memberikan kebenaran signifikan terhadap desas-desus bahwa zat kimia sunscreen menyebabkan kanker.
Baik physical atau chemical sunscreen, selama masih tercantum BPOM dan mendapat ijin edar, maka produk tersebut aman digunakan. Gunakan jenis sunscreen yang paling cocok dengan kondisi kulit.
Sunscreen dapat menurunkan risiko kanker dan prakanker kulit. Penggunaan sunscreen dengan SPF 15 secara teratur, dapat mengurangi risiko perkembangan Squamous Cell Carcinoma (SCC) sebesar 40% dan dapat mengurangi risiko melanoma sebesar 50%. Sunscreen juga dapat membantu mencegah penuaan dini seperti kerutan dan bintik-bintik penuaan.
SPF 15 dianjurkan untuk digunakan setiap hari dengan aktivitas yang tidak banyak dilakukan di luar ruangan (jalan santai, menyetir, dan lain sebagainya). Sedangkan SPF >30 dianjurkan jika kamu melakukan banyak aktivitas di luar ruangan (misal: bersepeda, berenang, dan lain sebagainya). Jangan lupa gunakan kembali sunscreen setiap 2 jam sekali.
SUMBER:
Mirsky, R. S., Prado, G., Svoboda, R. M., & Rigel, D. S. (2018). Oxybenzone and sunscreens: a critical review of the evidence and a plan for discussion with patients. SKIN The Journal of Cutaneous Medicine, 2(5).
Artikel pada situs American Cancer Society berjudul ‘How Safe is Your Sunscreen?’ oleh Stacy Simon (2018)
Artikel pada situs BBC Indonesia berjudul ‘Sunscreen: What sicence says about ingridient safety’ oleh Jessica Brown (2019)
Artikel pada situs Skin cancer Foundation berjudul ‘All About Sunscreen‘ ditinjau oleh Elisabeth G. Richard, MD (2022)






